Skip to main content

Planning : "Be Going to" and "Would Like to"

Music

Atropa Malfoy

[Bintang yang Tidak Bersinar] 


Gadis itu menengadah. 
Helaian-helaian rambut putihnya ditiup angin, melayang-layang di punggungnya. Pakaian hitam putih yang selalu menjadi trademarknya pun tak luput dari terpaan angin kencang yang berhembus tanpa ampun. Langit malam yang hampa dan redup. Kekuatan angin. Semuanya lebih terasa di sini. Di tempat yang tinggi dimana ia bisa berpikir bisa meraih langit dengan kedua tangannya. Atropa pun memejamkan kedua matanya.
Ingin rasanya berpikir bahwa semuanya cuma mimpi. Mimpi buruk yang serta merta akan berakhir ketika ia membuka kedua matanya. Mimpi buruk ini sangat menyedihkan. Ia tidak punya kekuatan. Sedikitpun kuasa untuk merubah apapun. Hatinya sudah kosong dan ia merasa tidak bisa berada dimana pun lagi.
England penuh dengan gedung-gedung tinggi. Atropa berdiri di puncaknya, di atap yang masih menyisakan sisa-sisa hujan tadi sore. Iris kelabunya yang telah membeku menatap langit yang tidak memberinya petunjuk apapun. Petunjuk jalan pada seseorang yang ia cari.
Hanya dia.
Atropa tidak punya tempat yang lain. 
Hanya dia yang mencintainya dengan tulus. 
Atropa juga mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Oleh karena itu, ketika hari yang suram berlanjut tanpa cahayanya, Atropa mengenali hari-hari itu. Sangat tidak asing. Hatinya perlahan membeku dan menjadi batu. Semua kebaikan dan simpati yang orang-orang itu berikan menjadi tidak berarti.  
Kalau cahaya itu tidak ada di sini,  lalu kenapa dia masih bertahan di manor itu? Di sekolah sihir itu? Di Skotlandia? Di Britania? 
Dunia ini sudah tidak ada artinya lagi.
Anak itu adalah cahayanya. Yang mencintainya dengan ketulusan yang tidak terukur. Dimana pun dia berada, maka Atropa akan mencarinya. Pasti ada di suatu tempat. Mungkin jauh, tapi pasti ada. Atropa berharap agar ia bisa mencapainya. 
Di tempat yang indah itu. Di suatu taman bunga tempat anak itu bisa berlari dan mengejar capung sesuka hati. Kelopak-kelopak bunga yang berhamburan di udara. Warna-warna yang menyenangkan. Cahaya yang ia cari pasti ada di sana. 
Adiknya yang tersayang.
Scorpius-nya yang terus mengaguminya. 
Jika dia tidak berada di sini, maka Atropa Malfoy tidak punya alasan untuk tetap tinggal.
Dan gadis itu pun menjejakkan kaki di udara. Tertarik gravitasi saat menatap langit gelap yang mencerminkan kegelapan hatinya. Ia  memberi warna di permukaan trotoar yang masih basah. Warna merah itu tidak sepadan dengan rambut putihnya yang berhamburan menutupi sebagaian wajahnya. 
. 
.
Scorpius...   
Sendirian itu sangat menyakitkan.
 Aku adalah kakakmu.
Tak akan kubiarkan kau menangis lagi. 
.
.
"Asalkan kita bersama,
aku tidak butuh siapa pun lagi." 
 . 
.
 'he is my step little brother,
whom father favours very much,
whom I envy so much.' 

Comments

About Me

My photo
Rozen91
Bismillahirrohmanirrrohim. Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Saya baru buat Blog dan tidak tau mau diisi dengan apa. Oh, ya, saya punya akun di www.fanfiction.net kalau mau nengok, silahkan...^^